“Pak, saat ini sedang ada program pembangunan Masjid pesantren. Barangkali Bapak berkenan untuk ikut berinfak.”
“Mohon maaf, saya sedang membangun rumah.”
Pada kesempatan yang lain, dengan bahasa yang berbeda:
“Maaf, saat ini saya sedang membiayai anak sekolah.”
Ada pula yang beralasan sedang memiliki kebutuhan keluarga, membayar cicilan, atau mempunyai keperluan lain yang dianggap lebih mendesak.
Alasan-alasan seperti itu tentu sangat manusiawi. Setiap orang memiliki kebutuhan dan tanggung jawab yang harus dipenuhi. Namun, terkadang tanpa disadari, kita menempatkan infak sebagai sesuatu yang baru akan dilakukan ketika keadaan sudah benar-benar lapang. Kita menunggu kebutuhan terpenuhi, menunggu penghasilan bertambah, atau menunggu memiliki kelebihan harta.
Pertanyaannya, apakah kita harus menunggu kaya untuk berbagi? Apakah infak hanya dilakukan ketika kebutuhan kita telah terpenuhi?
Al-Quran justru mengajarkan sesuatu yang berbeda. Dalam Surah Ali ‘Imran ayat 134, Allah Swt. menggambarkan salah satu karakter orang-orang yang bertakwa, yaitu:
…الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ
“Yaitu orang-orang yang berinfak, baik pada waktu lapang maupun pada waktu sempit.”
Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya yang menjelaskan tentang balasan bagi orang-orang yang bertakwa. Setelah Allah Swt. memerintahkan manusia untuk segera menuju ampunan-Nya dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, pada ayat berikutnya Allah menjelaskan karakter mereka. Salah satunya adalah tetap gemar berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit. Hamka dan M. Quraish Shihab sama-sama menempatkan sifat ini sebagai bagian dari ciri orang bertakwa yang memperoleh janji Allah berupa surga tersebut (Hamka, hlm. 926; M. Quraish Shihab, hlm. 220).
Di sinilah letak keindahan ajaran Al-Quran. Infak bukan semata-mata tentang seberapa banyak yang kita keluarkan, tetapi tentang kesediaan hati untuk berbagi dalam berbagai keadaan.
Ketika lapang, kita berinfak sebagai bentuk syukur. Ketika sempit, kita berinfak sebagai bentuk ketakwaan dan keyakinan bahwa rezeki berada di tangan Allah.
Sebab, jika menunggu sampai semua kebutuhan terpenuhi, mungkin kita akan selalu merasa belum cukup. Ada rumah yang ingin dibangun, anak yang harus disekolahkan, cicilan yang harus dibayar, kebutuhan keluarga yang terus bertambah, dan berbagai keperluan lainnya.
Karena itu, jangan selalu menunggu keadaan menjadi lapang untuk berbuat baik. Berinfaklah sesuai kemampuan, sekalipun sedikit.
Boleh jadi, bagi kita jumlahnya kecil. Tetapi di sisi Allah, yang dinilai bukan hanya jumlahnya, melainkan keikhlasan dan ketakwaan yang menyertainya.
Maka, berinfaklah ketika lapang dan jangan berhenti berinfak ketika sempit. Karena orang yang bertakwa bukanlah orang yang hanya memberi ketika memiliki kelebihan, tetapi orang yang tetap memiliki kepedulian kepada sesama dalam keadaan apa pun.
